Kesehatan

90 Persen Populasi Dunia Alami Gingivitis Kronis

09-04-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - Penyakit mulut benar-benar menjadi beban global. Faktanya, kita mungkin terkejut mengetahui bahwa gingivitis kronis mempengaruhi lebih dari 90 persen populasi dunia sampai taraf tertentu.

Dan itu, lazim di semua usia. Selain itu, periodontitis parah saat ini merupakan penyakit mulut yang paling umum ke-6 di dunia, mempengaruhi antara 5-20 persen dari semua orang dewasa.

Penyakit gusi, juga dikenal sebagai penyakit periodontal, adalah peradangan yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri di dalam mulut di sekitar gigi dan di sepanjang garis gusi. Sayangnya, penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini, dapat pula menyebabkan kehilangan gigi apabila tidak diobati.

Gingivitis adalah tahap awal penyakit gusi yang disebabkan oleh penumpukan plak pada gigi. Jika plak tidak dibersihkan dengan benar, plak akan terbentuk di garis gusi dan dapat menyebabkan radang gusi. Gejala gingivitis termasuk gusi yang teriritasi atau berwarna merah yang mungkin berdarah pada saat menyikat gigi atau flossing.

Barangkali ada kebingungan dengan istilah medis di seputar penyakit gusi, tetapi sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami. Penyakit gusi adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan semua tahap penyakit periodontal termasuk gingivitis dan periodontitis. Gingivitis menggambarkan penyakit gusi awal (dapat berulang terjadi), jenis yang ditandai oleh gusi merah, yang membengkak dan mudah berdarah ketika disikat atau dibersihkan.

Jika gingivitis tidak ditangani, bisa semakin parah dan berkembang menjadi tahap penyakit gusi yang lebih serius (tidak dapat dipulihkan) yang disebut periodontitis. Periodontitis menyerang gusi, tulang dan jaringan ikat yang menahan gigi di tempatnya, akhirnya melonggarkan gigi dari waktu ke waktu hingga mereka bisa terlepas. Penyakit gusi adalah penyebab utama hilangnya gigi.

Gingivitis adalah bentuk awal penyakit gusi dan disebabkan oleh penumpukan plak pada gigi. Gejalanya adalah gusi merah, meradang. Jika tidak diobati, gingivitis dapat menjadi penyakit periodontal yang lebih serius, yang dikenal sebagai periodontitis, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gigi terlepas.

Gingivitis juga sangat umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa dan terjadi ketika plak dibiarkan terakumulasi pada gigi. Rutinitas perawatan mulut yang tidak konsisten atau buruk dapat menyebabkan penumpukan plak pada gigi.

Itulah mengapa penting untuk menjaga kebersihan mulut yang baik setiap hari, seperti menyikat gigi dua kali sehari, membersihkan sela-sela gigi (flossing) sekali sehari dan berkumur dua kali sehari dengan obat kumur antiseptik yang efektif.

Sebuah studi morbiditas pada Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional pada tahun 2001 menyatakan bahwa, di antara 10 kelompok penyakit yang dikeluhkan masyarakat Indonesia, penyakit gigi dan mulut menduduki peringkat teratas (60 persen). SKRT lain pada tahun 2004 menyatakan bahwa 39 persen orang di Indonesia menderita penyakit gigi dan mulut.

Kesehatan Gusi merupakan manfaat nomor 2 yang dicari konsumen di Kategori Perawatan Mulut dimana 43 persen konsumen mengaku memiliki masalah gusi. Untuk itulah, PT Johnson & Johnson Indonesia melalui merek konsumen andalannya, Listerine yang dikenal sebagai obat kumur (mouthwash) terkemuka di dunia produk perawatan gusi dengan jahe herbal (Gum Care with Herbal Ginger).

Menurut Listerine Brand Amplification Leader of Johnson & Johnson Indonesia, Rikka Anggitha, Senin (9/4/2018), mengatakan, jahe sendiri sudah sangat dikenal oleh para konsumen di Indonesia. Jahe banyak dijadikan bahan utama atau pelengkap untuk minuman, obat dan juga masakan.

”Dengan manfaat Jahe yang sudah dipahami oleh masyarakat, kami ingin memperkenalkan Listerine Gum Care baru dengan Jahe Herbal dan Mint serta rasa lebih ringan, dirancang khusus untuk perawatan kesehatan gusi,”ungkapnya.

Dengan berkumur 2 kali sehari setelah menyikat gigi, kandungan 4 minyak esensial bersama dengan kebaikan Jahe Herbal dan mint dapat secara efektif mengurangi kuman pada gusi atas dan bawah serta membantu merawat beberapa tanda awal penyakit gusi seperti gusi bengkak, kemerahan dan gusi berdarah.

Country Leader of Communications & Public Affairs of Johnson & Johnson Indonesia, Devy Yheanne, menjelaskan, mengatakan, merek Listerine yang telah berusia lebih dari 130 tahun ini telah menambah produk perawatan kesehatan mulut dalam beberapa tahun terakhir, dengan rasa baru di bawah varian produk rasa lebih ringan seperti Zero, Green Tea dan Multi-Protect Zero. Kehadiran produk varian rasa lebih ringan tersebut menjadikan seluruh anggota keluarga dapat menggunakan Listerine, termasuk anakanak berusia enam tahun ke atas.

Rikka menjelaskan penelitian telah menunjukkan bahwa pasta gigi yang digunakan masyarakat Indonesia belum cukup efektif untuk menghambat pembentukan plak di permukaan gigi yang menyebabkan karies gigi dan penyakit periodontal, termasuk penyakit gusi. Argumen ini dapat didukung oleh tingginya prevalensi karies gigi dan periodontal di Indonesia.

”Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas penghambatan pembentukan plak gigi, dimana hal ini dapat dilakukan dengan menyikat gigi secara teratur dan membersihkan sela-sela gigi (flossing) dan lebih penting lagi mencuci mulut dengan obat kumur antiseptik yang efektif mengingat bahwa menyikat gigi dan flossing hanya mencakup 25 persen dari permukaan dalam mulut,"pungkas Rikka. (nos)

Advertising
Advertising