Kesehatan

J & J Edukasi Manajemen Risiko Infeksi Di RS

26-08-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - PT Johnson & Johnson Indonesia berkomitmen tingkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya tenaga ahli kesehatan mengenai pentingnya pencegahan Surgical Site Infections (SSI) dalam proses pembedahan.

Dalam komitmennya mendukung Indonesia sekaligus mengidentifikasi peluang untuk mengurangi risiko bagi pasien yang menerima perawatan dalam ruang operasi dan fasilitas bedah rawat jalannya, PT Johnson & Johnson Indonesia melaksanakan roadshow berbasis bukti untuk secara lebih lanjut berbagi pembelajaran dan wawasan berbasis bukti dengan menghadirkan Charles E. Edmiston Jr., PhD., CIC Emeritus Professor of Surgery dari Department of Surgery, Medical College of Wisconsin Milwaukee, Wisconsin USA.

Simposium dan roadshow tersebut diselenggarakan di RS Siloam Karawacidan Double Tree Hotel by Hilton, Jakarta. Kedua acara dihadiri oleh sekitar 100 peserta tenaga kesehatan seperti dokter bedah, dokter ahli bedah tulang, dokter kandungan & kebidanan serta tenaga kesehatan yang terkait dalam Tim Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dari seluruh Indonesia.

SSI adalah infeksi luka operasi yang disebabkan oleh bakteri yang masuk saat dilakukannya proses operasi yang terlihat 30 hari setelah operasi yang menyebabkan luka pada bagian tubuh manusia. Beberapa SSI yang terjadi relatif ringan, sehingga dapat langsung diobati dengan cepat. Namun, jika dibiarkan, maka akan terjadi infeksi yang dapat menyebabkan seseorang menjadi resisten terhadap antibiotik dan bahkan berujung pada kematian.

Hingga saat ini, SSI masih menjadi salah satu permasalahan dalam pelayanan kesehatan. SSI sering terjadi dalam beberapa prosedur operasi, seperti colorectal, gastrointestinal, cardiovascular, neurologic, skin, ortopedi dan prosedur transfusi.

Berdasarkan data WHO, di beberapa negara dengan penghasilan rendah dan menengah, terdapat sekitar 11 persen pasien yang terinfeksi setelah menjalani proses operasi/pembedahan. Sedangkan di Afrika, 20 persen wanita yang menjalani operasi Caesar mengalami infeksi luka, yang berdampak negatif terhadap kesehatan mereka sehingga kesulitan dalam merawat bayi mereka.

SSI juga telah menjadi infeksi yang paling umum terjadi di beberapa rumah sakit di Amerika Serikat. Angka kejadian SSI di Amerika Serikat sebesar 2-5 persen dari semua operasi rawat inap, dimana setara dengan 160.000-300.000 bahaya setiap tahun.

“Saat ini SSI masih sering sekali terjadi di Indonesia, selama prosedur pembedahan berlangsung. Di Indonesia sendiri, persentase terjadinya SSI antara 5-8 persen. Kesimpulannya, prevalensi healthcare-associated infections (HAI) di Indonesia sebanding dengan negara lain.

”Namun, prevalensi SSI pada pasien bedah di Indonesia tinggi. Maka dari itu dibutuhkan pencegahan SSI,”jelas Dr Adianto Nugroho, SpB KBD yang merupakan salah satu pembicara dalam acara Simposium Pencegahan SSI tersebut.

Melihat kondisi tersebut, maka World Health Organization (WHO), Center for Disease Control (CDC) dan American College of Surgeons (ACS) mengeluarkan panduan resmi (guidelines) yang mengatur secara khusus tentang pencegahan SSI. Pada WHO sendiri, Global Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infection yang dikeluarkan pada bulan November 2016 terdiri dari 29 jenis rekomendasi yang meliputi 23 topik dalam pencegahan SSI pada pre-intra dan postoperative.

Dr Hari Paraton, SpOG (K) yang juga merupakan salah satu pembicara tamu turut menjelaskan, salah satu hal penting yang dapat dilakukan untuk mencegah SSI berdasarkan guidelines WHO adalah preoperative bathing, dimana pasien direkomendasikan untuk membersihkan seluruh bagian tubuh untuk mengurangi jumlah bakteri pada permukaan kulit pasien selama menjalanakan operasi, sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya SSI. Selain itu, baik WHO, CDC dan ACS merekomendasikan untuk menggunakan benang berlapis antimikroba dalam beberapa jenis operasi guna mengurangi risiko terjadinya SSI.

Dalam hal ini, para ahli disarankan untuk menggunakan benang yang telah dilapisi oleh triclosan sebagai salah satu prosedur operasi.  Pada salah satu prosedur tersebut di atas, beberapa Lembaga kesehatan telah menciptakan rekomendasi untuk menggunakan chlorhexidine gluconate sebagai antiseptik dalam membersihkan seluruh kulit.

Prof Charles E. Edmiston, Jr, PhD juga menjelaskan pentingnya pencegahan SSI sebelum menjalankan prosedur pembedahan pun menjadi hal yang sebaiknya ikut dipertimbangkan oleh tenaga ahli kesehatan. Dan berdasarkan metanalisis yang melibatkan 13 randomized controlled clinical trials (RCT) yang terdiri dari 3.568 pasien, terbukti bahwa penggunaan benang berlapis antimikroba ini dapat membantu menurunkan risiko terjadinya SSI.

Melihat angka kejadian SSI yang masih tinggi di Indonesia, maka edukasi untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan SSI sangat penting dan perlu diperhatikan. Namun edukasi mengenai pencegahan SSI tidak hanya dilakukan kepada para tenaga ahli kesehatan, tetapi juga kepada pasien dan keluarganya.

“Kami berharap edukasi mengenai guidelines pencegahan SSI dapat dilakukan secara merata kepada untuk mengurangi risiko terjadinya SSI. Dengan begitu, SSI diharapkan tidak lagi menjadi masalah dalam pelayanan kesehatan dan persentase terjadinya SSI dapat menurun di Indonesia,”tutup Ns. Costy Panjaitan, CVRM, SKM, MARS yang merupakan Konsultan Pengendalian Infeksi dan Pencegahan. (nos)

Teks foto :

Simposium membahas SSI.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising