Kesehatan

Buku KIA Pantau Kesehatan Ibu dan Anak

19-09-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - Kementerian Kesehatan menetapkan bahwa buku kesehatan ibu dan anak (Buku KIA) menjadi satu-satunya alat pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi yang dilahirkan berusia 5 tahun, termasuk pelayanan imunisasi, gizi, tumbuh kembang anak dan KB (SK Menkes Nomor 284/Menkes/SK/III/2004).

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari, MQIH, Rabu (19/9/2018), menyatakan bahwa kebijakan Buku KIA sebagai telah lama ditetapkan. Namun hingga saat ini, komitmen dalam pemanfaatannya di masyarakat masih belum sesuai harapan, sehingga perlu penguatan terutama kelengkapan pengisiannya oleh petugas kesehatan, kader dan orangtua.

”Buku KIA sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, karena berisi informasi kesehatan, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan meliputi imunisasi, gizi seimbang dan Vitamin A,”ujarnya.

Pesan penguatan pemanfaatan Buku KIA disampaikan pada workshop Advokasi Pemanfaatan Buku KIA untuk Kesehatan Ibu, Anak, dan Gizi dalam memperkuat Suplementasi Vitamin A dengan tujuan untuk memperoleh komitmen, dukungan kebijakan dan implementasi untuk penerapan buku KIA di seluruh provinsi.

Upaya advokasi ini diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Nutrition International, sebagai mitra pembangunan yang mendukung sosialisasi penggunaan buku KIA kepada lintas program dan lintas sektor terkait sehingga dapat meningkatkan integrasi pemanfaatan Buku KIA. Mengundang lebih dari 130 undangan yang berasal dari 34 provinsi, workshop ini menghadirkan berbagai narasumber yang menguatkan kebijakan penerapan Buku KIA di lapangan.

Kementerian Kesehatan telah mencetak dan mendistribusikan Buku KIA ke daerah sejumlah 94 persen dari jumlah sasaran ibu hamil, dan seluruh Puskesmas telah menerima Buku KIA yang didistribusikan Dinas Kesehatan Kab/Kota. Namun data survei kesehatan nasional (Sirkesnas 2016) menunjukkan sebanyak 81,5 persen ibu hamil menyatakan memiliki Buku KIA, namun hanya 60,5 persen di antaranya yang bisa menunjukkan buku KIA.

Tahun 2016, Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan melakukan monitoring dan evaluasi terkait pemanfaatan buku KIA di 9 Kabupaten/Kota fokus Toba Samosir, Ogan Komering Ilir (OKI), Kota Bandar Lampung, Kota Tangerang, Jakarta Timur, Kota Bogor, Sukoharjo, Nganjuk dan Gowa yang menunjukkan hanya 18 persen yang diisi lengkap dengan tingkat keterisian paling banyak pada pelayanan kesehatan masa kehamilan dan bayi baru lahir.

Hasil analisis data Riskesdas 2013 dan Sirkesnas 2016 menunjukkan terdapat keterkaitan antara kepemilikan Buku KIA dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ibu yang memiliki buku KIA lebih sering melakukan pemeriksaan kehamilan, lebih banyak bersalin dengan pertolongan.

Bayi dari ibu yang memiliki Buku KIA juga lebih banyak mendapat imunisasi dasar lengkap daripada bayi dari ibu yang tidak memiliki Buku KIA, sehingga dapat disimpulkan bahwa Buku KIA berdampak positif pada perubahan perilaku ibu. “Secara garis besar, terdapat dua elemen penting dari Buku KIA, yaitu media informasi dan media pencatatan (monitoring) di keluarga/masyarakat,”ungkap dr. Kirana.

Buku KIA mengintegrasikan beberapa catatan kesehatan di komunitas seperti Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengukur pertumbuhan dan perkembangan bayi balita, kartu imunisasi, kartu ibu dan beberapa hal lainnya. Buku KIA berisi informasi penting mengenai kesehatan ibu dan anak yang perlu dilakukan oleh ibu, suami dan keluarganya secara singkat dan padat, termasuk mengenai kewaspadaan keluarga dan masyarakat akan kesakitan dan masalah kegawatdaruratan pada ibu hamil, bayi baru lahir dan balita, sehingga pada akhirnya buku KIA menyumbang penurunan angka kematian bayi dan balita.

Manfaat Buku KIA tidak saja pada sektor kesehatan, tetapi sudah diintegrasikan dengan sektor lain, diantaranya surat keterangan lahir untuk mempermudah mendapatkan akte, buku pegangan pendamping Program Keluarga Harapan, sebagai media pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak anak di PAUD, Bina Keluarga Balita dan lain-lain.

Untuk dapat mencapai pemanfaatan buku KIA yang optimal, petugas kesehatan tidak dapat bekerja sendiri, melainkan harus merangkul seluruh komponen masyarakat diantaranya Tim Penggerak PKK yang aktif berperan dalam pelaksanaan program kesehatan di lapangan. PKK diharapkan dapat menggugah keluarga/masyarakat agar termotivasi untuk memanfaatkan dan menerapkan isi buku KIA dalam perawatan kesehatan ibu dan anaknya.

“Perlu keterlibatan lintas program terkait dalam mengoptimalkan pemanfaatan Buku KIA, terutama komitmen petugas kesehatan dalam penggunaan dan pengisian Buku KIA sebagai instrument dalam pemberian KIE dan pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Selain itu juga dibutuhkan kesadaran para ibu (orang tua) untuk menyimpan dan selalu membawa buku KIA saat melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan,” imbuh dr. Kirana. (nos)

Teks foto :

Direktur Kesehatan Keluarga, Dr. Eni Gustina, MPH; Ketua Pokja IV TP PKK Pusat, drg. Laksmi Widyastuti; Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat MQIH,  dr. Kirana Pritasari; Direktur Nutrition International  Indonesia, DR. Sri Kusyuniati, melihat Buku Kesehatan Ibu dan Anak saat Deklarasi Komitmen Bersama TP PKK dan Kemenkes dalam peningkatan pemanfaatan buku KIA yang didukung oleh Nutrition International Indonesia.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising