Kesehatan

Tergantung Aksi, Siklus Corona Bisa Cepat Berakhir

30-03-2020

Bandung, beritasurabaya.net - Lembaga Riset Telematika asal Bandung, Sharing Vision memprediksi akhir siklus Corona di Indonesia bisa ditekan ke awal Mei 2020. Ini dengan syarat ada aksi kita bersama dalam penerapan gabungan kebijakan physical distancing, rapid test, dan isolasi.

Demikian temuan Simulasi model dinamika penyebaran virus dengan persamaan diferensi orde 30, nonlinier dengan umpan balik positif yang telah digunakan dalam memodelkan fenomena wabah Corona di Indonesia. Simulasi dipimpin Tim Data Scientist Sharing Vision di bawah Senior Data Scientist, Dr. Budi Sulistyo, bekerjasama Dosen STEI ITB Kelompok Keahlian Kendali dan Komputer, Dr. Dimitri Mahayana, mulai pekan pertama isolasi diri nasional, Senin (16/3/2020) lalu.

Menurut Budi, akhir siklus Corona di Indonesia bisa ditekan ke awal Mei 2020 dengan syarat penurunan penekanan kecepatan penularan oleh satu orang positif hingga ½ dari nilai awalnya. Selain itu, syarat lainnya adalah, physical distancing dilakukan dengan cukup ketat dan konsisten agar peluang seseorang kontak dengan orang lain hingga ½ kali dari kondisi biasa. Jika bisa lebih rendah lagi akan makin bagus.

“Kemudian, perlu perluasan cakupan deteksi dan isolasi dengan dua hal. Pertama, mendeteksi dan mengisolasi orang berisiko tinggi yakni orang yang diduga berada dalam masa awal inkubasi. Kedua, menaikkan cakupan dan kecepatan deteksi untuk orang yang sudah menampakkan gejala awal,” kata Budi, Senin (30/3/2020).

Selain itu, sambung Budi, perluasan deteksi dan isolasi untuk 20 persen orang terinfeksi yang masih berada di fase awal atau minggu pertama serta 50 persen terjangkit di fase tengah dan akhir atau minggu kedua, ketiga, dan keempat.

Dari simulasi skenario tersebut, siklus wabah diharapkan dapat berakhir minggu pertama Mei dengan batas atas akumulasi confirmed case 12750 orang. Puncak siklus terjadi 2 April dengan maksimum confirmed case harian adalah 1368.

Namun apa yang terjadi ketika skenario itu tidak dapat berjalan? Maka yang akan terjadi adalah skenario yang lebih buruk dari itu.

Jika kita hanya dapat menjalankan skenario physical distancing moderat, maka siklus akan menjadi cukup panjang hingga awal November 2020 dengan maksimum akumulasi confirmed case hingga 43 ribuan.

“Perlu diingat pula bahwa skenario ini mengandung asumsi adanya deteksi dan isolasi yang sudah cukup bagus yakni 40 persen dari terjangkit yang sudah menampakkan gejala. Kita juga perlu bersiap-siap dengan skenario 3 yakni gagal melakukan physical distancing secara konsisten. Dalam skenario 3 ini diasumsikan kita hanya mampu menurunkan probabilitas kontak dengan orang lain menjadi 70 persen kali nilai awalnya,” sambungnya.

Oleh karena itu, sambung Budi, pihaknya meminta kesiagaan dan kesiapan pemerintah dalam menerapkan kebijakan yang saat ini sudah diterapkan,yakni physical distancing, rapid test, dan isolasi secara konsisten dan terpantau, deteksi dini terhadap orang berisiko tinggi.

“Skenario gabungan memberikan hasil yang dapat menekan angka maksimum terjangkit dan memperpendek durasi siklus wabah. Maka, pemerintah dan masyarakat perlu bahu membahu memaksimalkan physical distancing dan mencegah kegiatan-kegiatan yang bersifat anti physical distancing,” tambahnya.

Tim Data Scientist Sharing Vision juga menemukan skenario 3 yakni physical distancing longgar yang membuat perkiraan akhir siklus bisa sampai 18 Maret 2021 diawali puncak siklus pada 12 Juli 2020 mendatang. Adapun akumulasi korban bisa mencapai 1,892 juta orang dengan confirmed case harian 14.720 orang.

Sebelumnya, tim tersebut memprediksi jumlah kasus positif Corona di Indonesia saat ini bisa mencapai lima kali lipat dari angka yang dirilis pemerintah.  Angka confirmed case pemerintah tanggal 22 Maret 2020 sebanyak 514 diprediksi sebenarnya kasus aktual 2.279 kasus, 23 Maret 2020 (579 confirmed/2.706 aktual), 24 Maret 2020 (686 confirmed/3.208 aktual), serta 25 Maret 2020 (790 confirmed/3.799 aktual).

Menurut Budi, salah satu asumsi dalam simulasi model tersebut adalah asumsi delay dalam pengumuman confirmed case. Delay diasumsikan sangat moderat yakni selama rata-rata tiga hari.

Delay ini adalah jeda waktu sejak saat dilakukannya tes terhadap seseorang, suspect, yang kemudian dinyatakan positif, hingga konfirmasi resmi pemerintah yang memasukkan orang tersebut ke dalam akumulasi total terjangkit. Semakin panjang delay aktual, maka semakin besar gap confirmed case yang diumumkan dengan kondisi aktual,”ujarnya. (nos)

Advertising
Advertising