Kesehatan

Pneumonia Memang Parah Tapi Bisa Disembuhkan

12-11-2020

Jakarta, beritasurabaya.net - Masih jelas di ingatan kita ketika bayinya, Lala meraung di ruang IGD. Lala tidak nyaman harus dipasang nebulizer dan infus. Bayi berusia 8 bulan itu tidak ingin lama-lama di rumah sakit.

Apa daya, Lala harus menghabiskan tiga hari di bangsal rumah sakit untuk mengatasi bronkopneumonia yang dideritanya. “Bunyi nafasnya grek grek gitu. Nafsu makan juga turun drastis. Saya ingin menangis. Saya hanya ingin Lala sembuh dan kembali ke rumah,” ungkap Vika mengenang hari-hari beratnya mendampingi Lala.

Vika adalah satu dari jutaan orang tua di dunia yang anaknya mengidap pneumonia. Di Indonesia,  berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2019 ada lebih dari 400.000 kasus Pneumonia di Indonesia.

Jika Lala tidak terselamatkan, akan menambah jumlah korban Pneumonia. Riset John Hopkins University dan Save the Children menyebutkan, jika pencegahan Pneumonia tidak dilakukan, hingga tahun 2030 akan ada sekitar 11 juta kematian anak.

Ini bukan angka yang kecil mengingat Pneumonia sendiri menjadi pembunuh nomor dua untuk balita di Indonesia. Untuk itu, dalam rangka Hari Pneumonia Dunia yang jatuh pada 12 November 2020, Save the Children Indonesia mengajak semua pihak untuk menghentikan penyebaran Pneumonia.

Di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, perhatian terkait paru-paru semakin tinggi. Hari ini diselenggarakan Festival Sehat Anak Indonesia yang mengundang banyak pihak untuk berbagi cerita pencegahan dan penanganan Pneumonia pada anak agar tidak ada lagi keluarga yang mengalami hal yang dirasakan oleh Ibu Vika dan Lala.

Hadir dalam kegiatan tersebut Hj. Wury Ma’ruf Amin mewakili Ibu Negara RI. Ia menyebut soal pentingnya slogan STOP Pneumonia “ASI eksklusif 6 bulan, Tuntaskan Imunisasi, Obati Anak Jika Sakit dan Pastikan Gizi yang cukup serta hidup sehat”.

Hadir pula Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang menjelaskan bahwa penting bagi kita semua untuk mencegah serta menanggulangi Pneumonia dimana pemerintah mendorong tata kelola pneumonia, meningkatkan akses pelayanan kesehatan balita, peran serta masyarakat dalam mendeteksi dini penyakit serta perluasan vaksin PCV.

Menteri Terawan juga mendorong masyarakat untuk menggunakan terus Buku Kesehatan Ibu Anak yang sudah ada sejak tahun 1993. Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama.

Tidak ketinggalan turut menyemarakkan hari Pneumonia Dunia ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga yang berpesan untuk ayah dan ibu supaya bersama memastikan pengasuhan keluarga berbasis hak anak dan pemenuhan hak anak. “Mari kita jadikan momentum Hari Pneumonia Dunia 2020 untuk memperkuat komitmen dalam memastikan kesehatan anak-anak Indonesia. Untuk menjadi anak yang cerdas dan pintar, mereka juga harus mempunyai kondisi fisik yang kuat. Anak terlindungi, Indonesia Maju,”tutur Menteri Bintang.

CEO Save the Children Indonesia, Selina Patta Sumbung dalam kesempatan yang sama, mengatakan, setiap 1 menit 2 balita meninggal atau 2500 balita setiap hari akibat Pneumonia. Pneumonia menyebabkan 15 persen dari semua angka kematian balita. Pembunuh balita utama di dunia lebih banyak dari AIDS, malaria dan campak sekaligus.

Di Indonesia sendiri Pneumonia bersama dengan diare penyebab utama kematianbalita dan anak. Ia mendorong berbagai pihak termasuk swasta untuk terlibat bersama dalam gerakan STOP Pneumonia ini.

Save the Children bersama Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan peran pihak swasta seperti PT Pfizer akan bersama mengatasi Pneumonia pada anak  agar julukan “The Forgotten Killer” atau “Pembunuh yang terlupakan”, bisa dihilangkan.

Di bagian lain acara ini, ada 3 orang tua yang berbagi pengalaman bagaimana menghadapi dan mengatasi anak balitanya saat Pneumonia menyerang. Ibu-ibu Tim Penggerak PKK dari Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat dan kabupaten Sumba Barat turut hadir menyemangati kader kesehatan dan posyandu untuk bersama-sama mencapai pola hidup bersih dan sehat. (nos)

Advertising
Advertising