Kesehatan

Imbas Pandemi Covid-19, Hampir 50 Persen Jurnalis Depresi

10-02-2021

Surabaya, beritasurabaya.net - Pandemi Covid-19 hampir berlangsung satu tahun. Imbas pandemi ini tidak hanya berdampak pada sektor perekonomian dunia, namun juga pada kesehatan mental jurnalis termasuk di Indonesia.

Survei    Center for Economic Development Study (CEDS), Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Padjajaran, 2-10 April 2020, yang disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, dalam webinar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI)-IDNTimes, Rabu (10/2/2021), menunjukkan, sebanyak 45,92 persen jurnalis mengalami depresi, 57,14 persen jurnalis mengalami kejenuhan umum (burnout).

Jurnalis yang tetap keluar rumah meliput berita lebih banyak mengalami gejala depresi dan memiliki peluang 1,65X mengalami depresi dibandingkan dengan wartawan yang tidak keluar rumah untuk meliput. Gejala yang dialami, kata dr.Novi, ketakutan, mudah terganggu dengan hal biasa, tidur gelisah, sulit memusatkan perhatian, merasa sendirian, dan berat untuk memulai sesuatu.

Responden ada 22 jiwa yang berisiko dengan biaya perawatan bisa mencapai Rp183 juta sebagai estimasi  biaya depresi jurnalis. Survei International Federation of Journalists  juga menunjukkan ada 600.000 jurnalis di 146 negara mengalami stres. Survei yang dilaksanakan 26-28 April 2020 di 73 negara dengan 1.308 responden dimana 42 persen jurnalis perempuan.

Efek lockdown terhadap kehidupan pribadi jurnalis dan stres teramplifikasi oleh tugas jurnalis dan tanggungjawab caregiving.

“Sebanyak 2/3 responden perempuan mengalami stres dan kecemasan. Dan hal ini mempengaruhi wellbeing, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Separuh responden laki-laki mengalami stres dan kecemasan,”ungkapnya.

Dalam Webinar Canadian Journalism Foundation, kata dr Novi, memaparkan studi dengan responden 73 jurnalis dari Afrika Selatan, Asia, Amerika Utara, Eropa .Hasilnya, 25 persen jurnalis cemas, 20 persen jurnalis depresi, 80 persen distress emosional dan psikologis.

Menjaga kesehatan jiwa pada masa Covid-19, menurut dr Novi, sangat penting. Stresor dapat memicu kecemasan. Perasaan kehilangan kendali adalah faktor kontributor terbesar kecemasan. Jadi kembali pegang kendali, jika memungkinkan, dapat secara signifikan membantu wellbeing mental.

"Terus-menerus bergelut dengan faktor pemicu cemas yang tidak bisa dikendalikan, lama-lama akan menjadi lelah sehingga energi habis padahal bisa digunakan untuk hal yang lebih positif. Mengingat Covid-19 unprecedented, stamina dan daya tahan penting!"tegasnya.

Dr Novi menyarankan agar membuat daftar faktor yang dapat dan tidak bisa dikendalikan. Hari yang terstruktur, rutinitas, dan perencanaan akan meningkatkan kendali. Luangkan waktu menuliskan daftar perencanaan.

Bagi jurnalis yang mengalami kecemasan, depresi bisa berkonsultrasi gratis melalui kanal Sehatpedia dan Sehat Jiwa milik APPS Kementerian Kesehatan. Atau juga lewat Instagram true_noriyu.


Sementara Psikiater Konsultan RSUD Dr Soetomo FK Universitas Airlangga, dr.Nalini Muhdi SpKJ (K), memaparkan hasil studi Profesor Psikiatri Universitas Toronto Dr Anthony Feinsten dan Direktur  The Journalist Fellowship Programme dari Reuters Institute for Study of Journalism (Juni 2020), Meera Selva, yang melakukan kajian terkait bagaimana jurnalis adalah paling affected saat melakukan liputan kejadian yang dramatik maupun ekstrim.

Pandemi Covid-19, kata dr Nalini, merupakan ketidakpastian. Kalaupun ada vaksin itu bukan solusi satu-satunya untuk mengatasi pandemi tapi hanya mencegah penyebaran Covid-19.

Disamping ketidakpastian, pandemi ini membawa tahun 2020 yang buram. Serba mendadak dan adanya isolasi sosial yang paling afektif adalah perempuan.

“Semua terdampak mental distress bahkan WHO sudah menyatakan mental health harus mulai berperan mengatasi dampak pandemi Covid-19,”tukasnya.

Profesi jurnalis dan dokter, kata dr Nalini, sebenarnya tidak jauh berbeda. Melakukan pekerjaan yang berhadapan langsung dengan kondisi yang bisa memicu terjadinya kecemasan tingkat tinggi.

Contohnya, ketika di lapangan menyaksikan secara personal orang yang dikover meninggal dunia. Pandemi juga mengubah jam kerja menjadi lebih panjang.

Dengan kebijakan work from home, justru bekerja menjadi over time. Bagi jurnalis perempuan ini tentu menjadi beban berat karena harus mengatur saat dia bekerja di rumah, mengajari anak belajar di rumah dan tugas-tugas lainnya.

“Ironisnya lagi, selama pandemi, jurnalis kehilangan leisure time. Hampir 24 jam bekerja, dan lama-lama bisa jadi over burden dan mengarah ke burnout, ,”ungkapnya.

Untuk itu, bekerja dalam tim sangat dianjurkan karena pekerjaan yang dilakukan jurnalis melibatkan personal dan profesional karena jurnalis harus bisa menjelaskan sesuatu tetap akurat dan dalam waktu yang cepat, tentunya ini bisa stressfull.

Selain itu, harus ada akses mental healthcare sebagai terapi dan penting dilakukan. “Pandemi di luar kontrol dan harus dimonitor resiko bunuh diri. Perempuan lebih rentan terdampak isolasi sosial dan kesepian dibanding pria,”pungkas dr. Nalini. (nos)

Teks foto :

1.Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, dalam webinar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI)-IDNTimes, Rabu (10/2/2021).

2.Psikiater Konsultan RSUD Dr Soetomo FK Universitas Airlangga, dr.Nalini Muhdi SpKJ (K), yang juga hadir sebagai pembicara Webinar.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising