Kesehatan

Mengelola Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

16-02-2021

Jakarta, beritasurabaya.net -  Kesehatan mental tidak hanya berkenaan dengan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Kesehatan mental mengacu pada keadaan sehat secara menyeluruh dimana setiap individu sadar akan kemampuannya dan dapat mengatasi tekanan hidup serta dapat bekerja secara produktif dan memberikan kontribusi pada komunitas mereka.

Siapa pun dapat mengalami gangguan kesehatan mental pada satu titik dalam kehidupan mereka. Namun, bukanlah hal yang mudah untuk mengindentifikasi seseorang yang memiliki masalah Kesehatan mental yang berpotensi sebagai “silent killer”, menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus.  

Secara realistis, butuh waktu bertahun-tahun sebelum seseorang merasa nyaman untuk dapat membuka diri terhadap masalah kesehatan mental mereka dan seringkali terlambat untuk menyadari dan mengatasinya. Hanya karena masalah kesehatan mental tidak terlihat, bukan berarti kesehatan mental itu tidak ada.

Secara global, hampir 1 miliar orang memiliki masalah kesehatan mental dan dilaporkan bahwa orang dengan kondisi mental yang serius tutup usia 2 dekade lebih cepat daripada mereka yang tidak menderita penyakit mental. Berdasarkan Statista Research Department, terdapat 2,99 juta orang Indonesia yang menderita gangguan jiwa pada tahun 2020.

Sementara itu, dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI) mengungkapkan bahwa terdapat 68 persen peserta yang melakukan swaperiksa dari 31 provinsi , mengalami masalah psikologis. Namun, kesehatan mental masih menjadi topik yang kurang dipahami.

Bagi banyak orang, hal ini tetap menjadi topik yang sulit untuk dibicarakan. Masyarakat dari berbagai demografi, etnis, dan negara memiliki sikap yang berbeda terhadap kesehatan mental ini. Kesehatan mental yang buruk cenderung dianggap sebagai kekurangan, sehingga beberapa dari mereka mengabaikan masalah kesehatan mental sementara yang lain menyangkal keberadaan mereka sama sekali.

Disebabkan adanya stigma sosial dan kebutuhan akan biaya pada perawatan pasien gangguan jiwa, banyak penderita kesehatan mental tidak mendapatkan mendapatkan pengobatan. Tanpa pengobatan yang tepat, penderita kesehatan mental dipaksa untuk menangani masalahnya sendiri dan membawa mereka kedalam lingkaran stres dan putus asa yang lebih dalam. Sehingga penting kiranya sebagai rekan kerja, karyawan, dan pimpinan untuk dapat mengapresiasi serta mengharagai seseorang apa adanya dan bersikap lebih peka atas apa yang telah mereka lalui sehari-hari. Tidak ada seorang pun yang harus berjuang sendiri mengatasi kesehatan mentalnya.   

Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja 

Vice President, 3M Asia Corporate Affairs, Jim Falteisek, mengatakan, pandemi Covid-19 semakin memperburuk krisis kesehatan mental secara global, para pelaku bisnis harus menyadari bahwa masalah kesehatan mental merupakan hal penting di lingkungan kerja. Saat ini, karyawan terus bekerja dengan kecepatan sangat tinggi untuk memenuhi tenggat waktu, bahkan mereka harus mengambil cuti untuk melakukan lebih banyak pekerjaan.

Terlebih, hal ini diperburuk dengan kurangnya transparansi dalam menyampaikan masalah ini di lingkungan kerja. Misalnya, 63 persen karyawan merasa tidak merasa nyaman apabila harus mengambil cuti karena masalah kesehatan mental mereka. Akibatnya, kurangnya kesadaran tentang perjuangan akan memperoleh kesehatan mental yang dihadapi para pekerja selama bertahun-tahun. 

Tidak diragukan lagi hal ini merupakan tantangan untuk mempromosikan lingkungan kerja yang sehat secara konsisten, khususnya pada saat kita memasuki pasca-pandemi secara global dan perusahaan berusaha untuk mengejar ketertinggalan dikarenakan waktu yang terbuang diakibatkan oleh pandemi yang terjadi. Nampaknya hal ini hampir berlawanan dengan intuisi yang menyarankan untuk mengambil langkah mundur dalam mendapatkan perspektif baru.

Namun, hal ini yang perlu kita lakukan. Dengan merenungkan hal-hal terpenting yang telah diajarkan pada tahun 2020, kita harus menyadari bahwa di tengah ketidakpastian di tahun ini, rekan kerja kita telah melewati badai bersama-sama.  

Mereka telah menghadapi tantangan dan ujian untuk dapat bertahan dan bersabar dalam menghadapi masa pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tanpa kekuatan dan ketahanan dari para karyawan, kegiatan usaha tidak akan bertahan di masa pandemi ini.

“Oleh karena itu, kesehatan mental mereka menjadi hal yang utama. Dengan adanya kepedulian terhadap hal ini, diharapkan dapat menciptakan kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan para karyawan, sekaligus membangun harapan akan masa depan kerja yang lebih baik. Hal ini bukan hanya merupakan hal yang tepat untuk dilakukan namun juga merupakan langkah yang cerdas untuk dilakukan. Penelitian WHO baru-baru ini memperkirakan bahwa setiap 1 USD yang diinvestasikan bagi pengobatan kesehatan mental secara umum, dapat mengembalikan nilai sebesar 4 USD dalam pengembangan kesehatan dan produktifitan,”paparnya.   

Di sisi lain, terdapat beberapa biaya yang muncul secara signifikan akibat ketidakmampuan dalam mengatasi kesehatan mental. Tidak hanya moral dan retensi karyawan yang menurun, namun juga mengakibatkan kerugian ekonomi secara global sebesar 1 triliun USD per tahun akibat hilangnya produktivitas.

Buruknya kesehatan mental para karyawan sebagai manusia dan tidak dapat dihindarkan dapat mempengaruhi kinerja kegiatan usaha. Sehingga, untuk mengatasi masalah ini, penting bagi pelaku kegiatan usaha dan karyawan untuk bersama-sama menyadari bahw akesehatan mental merupakan bagian dari aspek kesehatan yang harus dianggap hal yang wajar dan harus di anggap normal bukan dianggap sebagai stigma.  

Oleh karena itu, terdapat beberapa cara untuk mengatasi kesehatan mental tersebut. Antara lain, jangan takut untuk membicarakan kesehatan mental terutama apabila berada pada kondisi yang belum pernah dialami sebelumnya; Selalu menghubungi rekan atau keluarga saat membutuhkan dukungan; Dapatkan inspirasi dan cobalah strategi baru; Memahami dan mengetahui setiap informasi yang tersedia.

Secara keseluruhan, untuk mencapai kesehatan mental yang baik dibutuhkan konsistensi dalam setiap prosesnya, yakni perjalanan yang harus dihadapi sebagai sebuah proses bukan sebagai titik akhir. Melalui sumber daya yang tepat, lingkungan kerja, dan dukungan yang tepat, maka kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan kolaboratif.

“Dalam mewujudkan hal tersebut, kami senantiasa mencari solusi bersama untuk mengatasi masalah serta kesulitan yang ada.  Kesehatan mental telah mempengaruhi kita semua dan inilah saatnya untuk kita menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, peduli, dan memiliki empati di era abad ke-21 ini,”tegasnya. (nos

Advertising
Advertising