Laporan Khusus

Campina Produk Surabaya, Rasa Internasional

17-06-2012

Surabaya, beritasurabaya.net - Es krim 'camilan' yang menyehatkan, disukai anak-anak hingga orangtua. Dimana saja, kapan saja dan siapa saja pasti tidak melewatkan menu satu ini jika terhidangkan di atas meja maupun dalam lemari es atau saat ada momen istimewa.

Es krim bisa diproduksi dalam skala rumah tangga bahkan juga dalam skala pabrikan. Usaha es krim ini bisa pula berkontribusi ikut menyehatkan anak-anak bangsa jika dikelola secara profesional, memperhatikan nilai gizi, higenitas dan standar kesehatan yang diberlakukan pemerintah.

Seperti halnya Es Krim Campina produksi asli dari Kota Surabaya, yang saat ini mampu bersaing dengan produk es krim perusahaan multi nasional seperti Walls dari Unilever dan Meiji. Es Krim Campina awalnya hanya dibuat di garasi rumah Jalan Gembong Sawah Surabaya oleh pasangan suami istri Darmo Hadipranoto, 22 Juli 1972.

Sejak saat itulah, masyarakat Surabaya dan sekitarnya memilih Campina menjadi makanan camilan istimewa. Cara mendapatkan es krim juga tidak sulit karena Campina dijual melalui armada sepeda, freezer sampai mobil van.

Dalam waktu setahun berproduksi, almarhum M Noer yang saat itu menjabat Gubernur Jawa Timur mengunjungi pabrik Campina Gembong Sawah, satu-satunya industri es krim rumahan yang dinilai berkemang pesat. Bahkan untuk meningkatkan varian produk, pada 1984, Campina memindahkan pabriknya ke Rungkut hingga saat ini.

Tidak berhenti di sini saja, Darmo Hadipranoto terus berpikir soal persaingan usaha. Karena kekuatan modal dan inovasi sangat dibutuhkan agar pabrik es krim terus tumbuh pesat. Pada 1994, Sabana Prawirawidjaja pemilik PT Ultrajaya Milk Industry berpartisipasi dalam kepemilikan saham sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Campina Ice Cream Industry.

''Di industri es krim di Indonesia, Campina memiliki market share 25 hingga 30 persen. Meski demikian, produk asli Surabaya ini mampu bersaing dengan dua pemain lainnya,''kata Public Affair Officer PT Campina Ice Cream Industry, Karyono, pada beritasurabaya.net saat kegiatan Factory Visit, Jumat (15/6/2012) lalu.

Menurut Karyono, perjalanan 40 tahun usia Campina ini memang tidaklah mudah. Meski pemain di skala nasional hanya ada 3, namun harus mampu menyiasati pasar dan memainkan strategi untuk merebut pangsa pasar.

Ia mencontohkan keberhasilan Campina mendapatkan lisensi produk es krim Spongebob dan Avatar di Asia Tenggara pada 2007 setelah melakukan kerjasama dengan Nickelodeon. ''Ini upaya merebut hati pelanggan anak-anak dengan bentuk es krim yang lucu. Ada banyak varian produk untuk 4 segmen yakni segmen anak-anak dengan varian Fantasy, Didi Cup, Blue Jack. Segmen remaja, Concerto dan Tropicana serta segmen dewasa, Bazooka, Hula-Hula dan segmen keluarga berupa Family Pack dengan berbagai rasa dan ukuran. Termasuk ice cream cake yang bisa dihidangkan saat acara-acara spesial,''paparnya.

Pabrik Campina di kawasan Rungkut dilengkapi dengan peralatan modern mulai 7 line machine baik untuk mesin Cup, Cone maupun Stick. Kalau awal berproduksi, peralatan yang digunakan sangat sederhana.

Untuk menjalankan 7 mesin tersebut sekitar 500 karyawan bekerja dalam 7 hari 3 shift. Mereka memproduksi es krim setiap hari yang nilainya mencapai Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar dengan jumlah varian es krim lebih dari 50.

Sebelum produk dipasarkan, es krim pun disimpan dalam cold storage dengan suhu ruangan minus 20 hingga minus 30 derajat Celcius. Dalam gudang ini, produk bisa tahan hingga 2 tahun. ''Namun umumnya, setiap kali produksi, produk hanya tersimpan 2 minggu karena habis terserap pasar. Begitu pula saat didistribusikan ke kantor cabang, kendaraan pengangkut juga tetap dijaga suhu ruangan agar kualitas produk tidak berkurang,''kata Karyono.

Jaringan distribusi Campina terdiri dari 20 distributor di Pulau Jawa dan 15 distributor yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Sedangkan bentuk pemasarannya dilakukan melalui channel modern (40 persen), tradisional/mini market (25 persen), Horeka (10-15 persen) dan sisanya melalui mobile unit.

Pasar Es Krim Campina, menurut Karyono, meski pabriknya di Surabaya namun banyak terserap di kawasan Jabodetabek (40-45 persen). Jawa Timur sendiri hanya kisaran 30 persen. ''Nilai penjualan Es Krim Campina tahun ini di kisaran Rp 650 milyar. Ini naik 25 persen dibanding tahun lalu. Sedangkan harga es krim biasanya alami kenaikan 10 persen seiring dengan kenaikan bahan bakunya,''pungkas Karyono. (noer soetantini)

Teks foto :

Pasangan suami istri Darmo Hadipranoto yang sukses membangun pabrik Es Krim Campina asli produk Surabaya, sejak 1972.

Foto : Titin

Advertising
Advertising